Beranda » Artikel » Kawah Ijen, Surganya Pemburu Blue Fire Banyuwangi

Pendakian ke Gunung Ijen bak sajian tentang keindahan sekaligus perjuangan. Di balik bentangan kawah dan api biru yang sungguh memesona, terselip cerita tentang semangat para penambang belerang yang perkasa.

Hari masih gelap. Tat kala kami beranjak dari hotel di Banyuwangi menuju pos pendakian Kawah Ijen. Kulihat jam di tangan, waktu menunjukkan Pukul 01.30 WIB dinihari. Seraya menembus dinginnya udara berselimut kabut, pendakian hari itu dimulai.

Gunung Ijen berada pada ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut. Berbekal jaket, kupluk, sarung tangan, senter dan tentu saja sebuah masker khusus, kami beranjak dari Paltuding, sebagai pos awal pendakian.

Kesehatan yang prima menjadi syarat mutlak dalam melakukan aktivitas alam ini. Mengingat medan yang cukup berat, dengan tingkat kemiringan paling ekstrim mencapai 45 derajat. Kontur yang dilalui pun sangat menantang, terdiri dari jalanan berpasir, kerikil, tanah, hingga bebatuan, yang sesekali diselingi angin kencang bercampur debu. Belum lagi, bau belerang yang begitu menyengat menyusup melalui celah-celah masker.

Sebagai pemula, jarak pendakian sejauh 3,5 kilometer kami tempuh dalam waktu +/-2,5 jam. Sesampainya di puncak, pendaki masih ditantang untuk turun sejauh 800 meter ke bibir kawah jika ingin menyaksikan bluefire. Medan yang harus dilalui tak kalah berat, dengan tingkat kemiringan tercuram mencapai 70 derajat, pendaki harus berhati-hati melalui jalan setapak yang terdiri dari bebatuan yang menumpuk tidak teratur.

Meski begitu, fenomena blue fire yang sangat sohor itu menjadi magnet tersendiri bagi para pendaki Gunung Ijen. Sebab, si api biru yang menyala hanya pada pukul 02.00 hingga 04.00 menjelang subuh itu hanya terdapat dua di dunia, yakni di Indonesia (Banyuwangi) dan Islandia. Blue fire sendiri merupakan reaksi dari gas bumi yang bertemu oksigen pada tingkatan tertentu. Hasil dari reaksi ini terlihat seperti api yang berwarna biru.

Setelah menyaksikan keajaiban blue fire, bersegeralah mendaki kembali untuk mengamati indahnya matahari terbit di balik Gunung Ijen. Sebuah gradasi warna langit orens dan merah muda yang sangat memesona menembus kabut dan menyinari kawah yang berwarna hijau kebiruan.

Tak selang berapa lama, langit terlihat cerah. Rona matahari mulai menunjukkan eksistensinya. Sementara para pemburu sunrise belum juga beranjak dari tempatnya berdiri, seraya mengabadikan moment indah dari Sang Pencipta. Mereka dengan takjub menikmati cahaya surya yang menyala menyinari garis pantai dan Taman Nasional Baluran di bawah sana.

Pagi itu, para penambang belerang terlihat berseliweran memikul bongkahan belerang berwarna kuning pucat. Para ‘pejuang keluarga’ itu berjalan cepat, memanggul dua keranjang anyaman rotan dengan beban 70-100 kg di kedua bahunya yang kekar, seraya bergerak turun ke kaki gunung.

Pendakian ke Gunung Ijen berakhir. Kami kembali ke campground Paltuding dengan melewati bukit yang berada di arah timur. Di ketinggian, kawah berwarna hijau di mulut Ijen luas membentang seperti danau. Sementara sepanjang jalur yang kami lewati, barisan pohon pinus meneduhkan pandangan sekaligus menyejukkan jiwa, berdiri di antara hamparan awan yang seakan menggantung lebih rendah. Sungguh tak kalah indah.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.